

Di usia 86 tahun, Mak Endah masih bertahan hidup dengan berjualan kicimpring keliling. Dengan langkah tertatih dan tenaga yang kian terbatas.

Mak Endah tinggal bersama dua cucunya yang berkebutuhan khusus, Yuni (15 tahun) dan Yusuf (12 tahun), keduanya penyandang tunagrahita. Sejak kecil, mereka kerap menjadi korban bullying di lingkungan sekitar. Julukan kasar, dorongan, hingga perlakuan tidak manusiawi meninggalkan luka batin yang dalam, terutama bagi Yuni yang sering mengalami ledakan emosi dan tantrum akibat trauma.
Yuni tak pernah berani melawan. Ia takut jika membalas, justru Mak Endah yang menjadi sasaran. Bahkan pernah, orang tua pelaku perundungan mendatangi rumah dan memarahi Mak Endah yang sudah renta.
Perundungan yang terus dialami membuat Yuni mengalami trauma berat. Ia sering menangis, menarik diri, dan mudah marah tanpa sebab. Pada titik terberatnya, Yuni pernah mengalami depresi hingga sempat ingin mengakhiri hidupnya.

Kehidupan Yuni dan Yusuf sepenuhnya bergantung pada Mak Endah. Mereka juga kerap membantu Emak dengan membuat kecimpring dan Yusuf menemani emak ke kebun untuk menanam singkong. Dan Emak yang berjualan keliling kecimpring yang dibuatnya. Penghasilanya tidak menentu, hanya sekitar 20-40ribu setiap kali berjualan dari pagi sampai sore.
Sang ibu telah pergi meninggalkan mereka sejak lama, sementara ayahnya harus merantau sebagai buruh bangunan demi menyambung hidup, namun jarang pulang dan menafkahi Yuni dan Yusuf. Dengan kondisi tersebut, Mak Endah bukan hanya menjadi pengasuh, tetapi juga satu-satunya sandaran hidup bagi kedua cucunya.

Di tengah keterbatasan fisik dan ekonomi, Mak Endah tetap berusaha memproduksi kicimpring bersama Yuni dan Yusuf. Prosesnya panjang dan melelahkan, namun hasilnya sering kali tidak sebanding dengan tenaga yang dikeluarkan. Saat pembeli sepi atau bahan baku tak tersedia, usaha terhenti, dan kebutuhan sehari-hari menjadi semakin sulit dipenuhi.
Tak jarang, Mak Endah harus menghadapi kondisi cucunya yang tiba-tiba tantrum, menangis, atau marah tanpa sebab. Di usia yang seharusnya digunakan untuk beristirahat, ia justru memikul beban emosional dan fisik yang berat. Namun semua itu dijalaninya dengan satu tujuan: memastikan Yuni dan Yusuf tetap bisa bertahan dan memiliki masa depan yang lebih baik.

Yang paling membuat Mak Endah cemas bukanlah rasa lelah atau sakit di tubuhnya, melainkan pertanyaan yang terus menghantui hatinya: siapa yang akan menjaga Yuni dan Yusuf ketika dirinya sudah tak sanggup lagi berjuang?
Sahabat Kebaikan, di usia 86 tahun, Mak Endah masih harus berjualan kicimpring demi menghidupi dua cucu istimewanya, Yuni dan Yusuf. Mereka bukan hanya berjuang dengan keterbatasan, tetapi juga luka batin akibat perundungan dan kehilangan kasih sayang seorang ibu. Mari kita hadir melalui donasi untuk membantu kebutuhan hidup, pendidikan, kesehatan, serta perbaikan rumah Mak Endah. Sedikit bantuan dari kita adalah harapan besar bagi masa depan Yuni dan Yusuf.
Informasi: Dana yang terkumpul akan digunakan untuk modal usaha Mak Endah, biaya pendidikan untuk Yuni dan Yusuf, kebutuhan kesehatan atau pendampingan psikologis dan renovasi rumah. Jika terdapat kelebihan Dana akan digunakan untuk membantu pemenuhan kebutuh para Penerima Manfaat serta Program Lain nya yang berada di bawah Yayasan Global Sedekah Movement.
-----------------------------------------------------------------------
Disclaimer : generasimulia.com tidak mewakili dan tidak bertanggung jawab atas segala bentuk informasi pada halaman campaign ini, karena informasi diatas sepenuhnya milik campaigner (penggalang dana) dan galang dana ini dishare melalui promosi iklan dimana sebagian donasi terkumpul untuk pembiayaan promosi iklan. Seluruh pembiayaan promosi dibayarkan 100% ke penyedia jasa iklan seperti meta, tiktok dan media lainnya
![]()
Belum ada Fundraiser