

"Capek memang capek, tapi mau gimana lagi... Namanya cari hidup. Menafkahi anak dan suami. Kalau bukan ibu siapa lagi?"

Selama empat tahun terakhir, Bu Siti (40) menjadi satu-satunya tulang punggung keluarganya. Suaminya, Abdul Tahir (44), yang sebelumnya bekerja sebagai buruh tani jagung, kini tidak lagi mampu bekerja setelah mengalami gangguan saraf. Untuk berdiri saja tubuhnya sudah lemah, bahkan makan pun terkadang harus dibantu Bu Siti.

Setiap pagi, Bu Siti berusaha mencari penghasilan sebagai buruh kupas bawang. Satu baskom bawang yang selesai dikupas dihargai Rp15.000. Jika sedang ada pekerjaan, ia bisa mengerjakan hingga 5–7 baskom. Namun pekerjaan ini hanya tersedia ketika musim bawang tiba.
Saat ini musim bawang sedang berakhir. Artinya, pekerjaan yang selama ini menjadi salah satu sumber penghasilan Bu Siti sedang tidak tersedia. Ia pun harus mencari pekerjaan lain sebagai buruh pembersih ladang jagung atau menjual kayu bakar. Apa pun dikerjakan selama ada yang bisa menghasilkan uang untuk makan dan memenuhi kebutuhan keluarganya.

Sebab kebutuhan keluarga tidak pernah mengenal musim.
Setiap hari, Bu Siti harus menghidupi suaminya yang sudah tidak mampu bekerja dan membiayai sekolah anak semata wayangnya, Muhamad Afrizal (12). Dengan penghasilan yang tidak menentu, makanan mereka pun sering kali sangat sederhana. Sayur daun kelor menjadi menu yang biasa disantap bersama nasi. Jika ada telur, Bu Siti bersyukur. Jika ada yang membawa ikan, keluarganya bisa menikmati lauk yang lebih layak. Bahkan, pernah mereka hanya makan nasi yang dicampur air.

Di tengah perjuangan mencari nafkah, gempa yang melanda NTT semakin memperberat keadaan. Rumah mereka rusak parah, banyak tiang penyangga patah akibat guncangan hingga rumah nyaris roboh. Kini Bu Siti, suami, dan anaknya tinggal di tenda darurat yang dibuatkan warga.

"Tinggal di tenda tidak nyaman. Kalau malam dingin. Suami juga tidak sehat. Kalau di rumah, biarpun kecil, tetap terasa aman."

Di tengah keadaan itu, Bu Siti tidak ingin selamanya bergantung pada pekerjaan sebagai buruh. Ia ingin memiliki usaha kecil yang bisa dijalankan dari sekitar rumah, sehingga tetap dapat memperoleh penghasilan sekaligus merawat suaminya.
"Ibu berharap suami bisa sembuh, semoga bisa cepat sembuh. Aamiin."

Harapannya sederhana: memiliki tempat tinggal yang layak dan kesempatan untuk kembali berusaha dengan tenaganya sendiri. Bukan sekadar mendapatkan bantuan untuk bertahan hari ini, tetapi memiliki sumber penghasilan yang bisa menopang keluarganya setelah bantuan selesai.
Sahabat Kebaikan, donasi yang terkumpul akan menjadi bagian dari ikhtiar membantu Bu Siti dan keluarganya bangkit setelah gempa. Dukungan diberikan untuk membantu pemulihan tempat tinggal sekaligus mendorong usaha produktif agar Bu Siti memiliki sumber penghasilan yang lebih berkelanjutan.
Sebab Bu Siti tidak hanya membutuhkan bantuan untuk melewati masa sulit. Ia membutuhkan kesempatan untuk kembali berdaya, menghidupi suami dan anaknya, serta perlahan membangun kehidupan keluarganya kembali.
Informasi: Donasi digunakan untuk mendukung kebutuhan dan pemberdayaan Bu Siti serta keluarganya, sekaligus program dan penerima manfaat lainnya di bawah naungan Yayasan Global Sedekah Movement.
----------------------------------------------------------------------
Disclaimer : generasimulia.com tidak mewakili dan tidak bertanggung jawab atas segala bentuk informasi pada halaman campaign ini, karena informasi diatas sepenuhnya milik campaigner (penggalang dana) dan galang dana ini dishare melalui promosi iklan dimana sebagian donasi terkumpul untuk pembiayaan promosi iklan. Seluruh pembiayaan promosi dibayarkan 100% ke penyedia jasa iklan seperti meta, tiktok dan media lainnya
![]()
Belum ada Fundraiser
![]()
Menanti doa-doa orang baik